Bully

​”Jangan bersikap seakan lo Psycho, banyak yang ga suka sama lo”
Itu sepenggal kalimat yang ditujukan seniorku untuk perempuan Psycho yang dia maksud, yaitu aku. Tepat tujuh tahun yang lalu.  Kala

 itu aku di Bully oleh senior dan teman-teman seangkatan dan hal itu sangat membekas.Dihina , disiram dan di cyber bully jadi makanan sehari-hariku.Hal itu terjadi selama satu tahun.

Sampai hari ini aku masih takut mendengar orang bicara keras dan kasar.
Kala hal itu terjadi ada nasehat dari seorang teman yang selalu aku ingat dan itu jadi motivasiku untuk bangkit.

“Jangan kotori doamu dengan meminta Allah menghukum mereka. Tanpa dimintapun , Allah sudah nenyiapkan “hadiah”  untuk mereka.

Ceritakan semua mimpimu ke Allah minta Allah mengabulkannya.”
Tidak mudah memang tapi aku tidak mau menyerah.

Aku bertekad bahwa aku harus jadi orang yang jauh lebih baik dari mereka yang telah membullyku.

Akhirnya dengan izin Allah beberapa tahun setelah aku di Bully, aku berhasil masuk Universitas impianku.

Si cewek psycho itu bisa kuliah di kampus impiannya yang merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia.
Ketika memasuki masa kuliah, aku masih jadi pribadi yang tertutup. Aku sangat berhati-hati dalam berteman. Aku masih tidak percaya kalau masih ada orang baik selain keluargaku.

Sedikit banyak tindakan Bully yang kurasakan kala itu telah mengenai kejiwaanku.

Aku tidak mudah percaya pada orang lain.

Aku menjadi rendah diri, tidak percaya diri.

Sampai di semester 2 aku ikut seleksi menjadi staf akademik Rumbel.

Saat itu aku diwawancara oleh kak Hery yang merupakan kadiv Akademik Rumbel saat itu.

Aku akhirnya diterima menjadi staf akademik dan bertemu dengan kakak-kakak yang hebat.

Aku yang paling muda dan paling bodoh , tapi mereka menganggapku sama dengan mereka. Mereka tidak pernah merendahkan atau meremehkanku. Aku punya hak dan kewajiban yang sama.

Aku boleh berpendapat, aku juga boleh menyampaikan kritik dan saran. Pelan tapi pasti rasa percaya diriku muncul.

Kak Hery dan kakak-kakak yang lain sangat mengerti keadaanku.

Mereka sangat mengerti kalau emosiku sering tidak stabil.

Merekalah yang membantuku keluar dari bayang-bayang buruk masa lalu. Mereka menyadarkan aku bahwa masih ada orang baik selain keluargaku.

Korban bully itu butuh orang-orang yang bisa mengerti dan menerima emosi mereka yang tidak stabil sehingga pelan-pelan dapat mengembalikan rasa percaya diri mereka. Aku sekarang bukanlah aku seperti 7 tahun yang lalu. Aku kini lebih berani bicara, berani mengungkapkan pendapat. Walaupun masih ada sedikit trauma, aku tidak bisa melihat penghinaan atau orang yang tidak bisa menghargai orang lain. Ketika hal itu terjadi aku akan marah,tidak bisa menerima setiap penghinan dan meskipun aku tidak dapat melampiaskan kemarahanku, aku akan benci pada orang yang melakukan hal itu. Tapi satu hal yang pasti, tidak pernah terbersit sedikitpun dipikiranku bahwa aku akan balas dendam dengan cara menjadi pelaku Bully. Aku tidak ingin ada korban bullying lainnya.

Menjadi korban Bully bukan berarti kita harus hancur, kita harus bangkit dan menunjukkan pada mereka bahwa kita hebat.

Bekasi,

12 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s