“Kuda Besi”


Suka duka naik commuterline. Naik  si kuda besi ini banyak sekali suka dukanya. 

Tinggal di Bekasi dan kuliah di Depok  mengharuskanku untuk menggunakan si kuda besi ini untuk transport .

Setiap pagi aku berangkat dari rumah menuju stasiun kranji jam 05.20. Mama yang tidak tega melepas anak gadisnya keluar rumah sepagi itu, dengan suka rela mengantarkanku naik motor menuju stasiun kranji yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.

Kalau harus naik kendaraan umum aku harus berangkat dari rumah pukul 04.30.

       Berangkat sepagi itu membuatku sering kali tidak ikhlas kalau harus pulang malam dari kampus. Aku juga kasihan sama mama yang juga harus menjemputku di stasiun kranji ketika gue pulang.

       Sesampai di stasiun Kranji, sudah terlihat kerumunan orang menunggu kereta menuju kota. Jumlah kerumunan ini semakin banyak di hari senin – kamis.

Selain orang-orang yang akan pergi bekerja di Jakarta, hari  senin – kamis juga ada rombongan ibu-ibu yang akan berbelanja di Tanah abang.

Dengan jumlah penumpang yang membludak seperti itu, PT KAI belum juga menambah jumlah kereta api.

Bisa dibayangkan ketika kereta api datang kerumunan orang-orang yang sudah menunggu kereta itu langsung aja menyerbu, dan sering kali  orang yang akan turun dari kereta tidak bisa turun karena dari bawah sudah banyak orang yang berdesakan ingin masuk kereta.

Walaupun sudah diingatkan berkali-kali bahwa penumpang yang turun harus di dahulukan, baru penumpang yang akan naik menyusul. Tetapi tetap aja orang-orang itu tak peduli dan terjadilah saling dorong mendorong, hal inipun terjadi setiap hari.

        Kalau berangkat dari stasiun Kranji aku selalu naik di gerbong wanita karena  jumlah penumpang yang  membludak gue sering kali berpindah posisi tanpa harus menggerakkan kaki.

 Aku yang awalnya berdiri dekat pintu bisa dengan mudahnya  terdorong ke belakang tanpa menggerakkan kaki.

Untunglah  AC di commuter cukup dingin sehingga kepadatan di dalam kereta tidak membuat pengap.

Inilah resiko naik angkutan masal yang murah meriah.

        Setelah melewati beberapa stasiun akhirnya sampailah aku di stasiun manggarai.

Di sini sering kali kereta berhenti di jalur yang gak ada peronnya. Bisa dibayangkan kami para penumpang yang sebagian besar perempuan yang akan pergi ke kantor harus turun kereta dengan cara melompat.

Aku kagum dengan ibu-ibu dan mbak-mbak yang dengan sigap melompat dari kereta tanpa canggung.

Sedangkan aku sampai hari ini masih belum berani terjun bebas seperti itu.

Aku selalu mengambil posisi duduk di pinggir pintu kereta , setelah itu barulah aku turun. Meskipun sering kali mendengar omelan para ibu-ibu itu namun aku tak peduli. Dalam hati aku membatin “sabar bu, suatu saat nanti saya  pasti bisa juga terjun bebas seperti itu. Beri saya sedikit waktu.” 

        Setelah turun dari kereta kamipun harus berlari lagi mencari kereta yang harus kami naiki lagi untuk mencapai tempat tujuan kami.

Dari manggarai aku naik kereta yang menuju Bogor. Di kereta ini aku berani naik  gerbong yang bukan gerbong khusus wanita karena biasanya kereta yang menuju Bogor tidak terlalu padat, hal inilah yang kemudian membuatku dengan mudahnya mendapatkan tempat duduk.

          

Dan sering kali rasa kantuk menyerang ketika kereta mulai berjalan. Aku bahkan tak peduli meskipun di depanku duduk cowo ganteng.

Hal yang bisa menahanku untuk tidak tidur adalah ketika di kiri dan kananku duduk cowo ganteng.

Alhamdulillah aku masih bisa jaim.

          Tapi suatu hari ada hal yang sangat memalukan.

Hari itu seperti biasa aku duduk di kereta. Setelah melihat kiri dan kanan akupun langsung tidur karena mengerjakan tugas sampai tengah malam membuat waktu tidurku berkurang dan kebetulan di kiri dan kananku duduk ibu-ibu. Akupun berpikir bolehlah kalau memejamkan mata sebentar.
Tapi ada hal yang sangat memalukan,ketika aku terbangun kepalaku udah ada di bahu seorang cowo ganteng.

Aku tak tahu sejak kapan cowo itu ada di sebelahku.

          Untunglah keretanya el sudah sampai di stasiun kampusku. 

Tanpa melihat kekiri & kanan lagi aku langsung turun.

Aku malu banget dan saat itu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak boleh tertidur lagi di kereta.

Peristiwa memalukan itu tidak boleh terjadi lagi.  

Bekasi,

30 Oktober 2013
*Sumber Foto: http://www.weheartit.com
        

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s